Pelayanan Di Restoran Sushi Tei

Pelayanan Di Restoran Sushi Tei

Daftarrestoranindo.web.id – Suatu sore, seorang wanita memasuki toko Sushi Tei yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Tidak lama kemudian, wanita itu memarahi staf toko dan pergi seperti ini. Ketika karyawan Sushi Tei menelepon untuk meminta maaf dan menanyakan apa penyebabnya, wanita itu tetap mengutuk amarah dan segera menutup telepon.

Beberapa saat kemudian, perempuan tersebut menelepon balik dan mengatakan “Maaf ya, saya tadi kesal. Habisnya, staf gerai tidak membantu saya yang sedang membawa belanjaan, anak, dan stroller. Saya kan kesal,” keluh ibu muda ini. Begitulah kurang lebih cerita yang disampaikan Liana Wu, General Manager Operations PT Sushi-Tei Indonesia kepada Marketeers saat ditemui di Sushi Tei Central Park beberapa waktu lalu. Liana, begitu sapaan akrabnya, mengatakan bahwa cerita itu merupakan feedback yang paling berkesan yang pernah ia alami sampat saat ini.

“Customer menginginkan sesuatu yang mereka pendam. Dari sana, kami menyadari kami harus memahami pelanggan lebih dalam, memahami anxiety & desire-nya. Jika kami tidak menelepon, mungkin ibu itu tidak akan kembali lagi kepada kami. Syukurnya, ia kembali lagi ke Sushi Tei,” kata Liana.

Restoran merupakan unit usaha yang selalu berhubungan langsung dengan orang banyak. Bagi restoran sushi yang hadir di Indonesia sejak tahun 2003 ini, sudah wajib hukumnya untuk terus mengerti apa yang diinginkan pelanggan. Metode mendengarkan menjadi salah satu bagian yang masuk dalam standar pelayanan yang mesti dipahami oleh seluruh staf Sushi Tei, baik tim dapur maupun tim servis.

“Kuncinya itu mendengarkan. Itu terjadi di setiap bentuk pelayanan, seperti saat pelanggan memesan makanan. Kami berusaha agar tidak terjadi salah pesan atau salah antar pesanan,” katanya.

Sebab itu, komunikasi antara tim servis dan dapur harus berjalan optimal. Untuk memuluskan hal itu, setiap pergantian shift, masing-masing tim saling berkoordinasi, khususnya soal ketersediaan menu makanan. Jangan sampai, ketika pelanggan sudah memesan, staf kembali lagi ke meja pelanggan sekadar untuk mengatakan bahwa menu itu tidak tersedia.

“Biasanya, itu terjadi pada menu salmon skin kami yang memang ketersediaannya sangat terbatas. Tim dapur harus menginformasikan kepada tim servis. Sehingga, tim servis bisa menginformasikan ke pelanggan. Kami tidak ingin pelanggan menjadi kecewa akibat kurangnya komunikasi antartim,” papar Liana.

Sushi Tei pun menargetkan, dua puluh menit menjadi waktu maksimal yang dibutuhkan untuk menyajikan hidangan ke meja pelanggan. Liana mengakui, dengan pelanggan yang rela mengantri saban harinya, kecepatan menjadi hal yang dibutuhkan Sushi Tei. “Meski penuh, jangan sampai understaff. Customer menginginkan respons yang cepat dari staf. Apalagi, bagi kalangan pekerja, waktu mereka terbatas,” ungkap Liana sembari mengatakan, setiap gerai Sushi Tei membutuhkan sekitar 80 pegawai.

Selain soal komunikasi, beberapa standar pelayanan yang juga menjadi sorotan Sushi Tei adalah cara menyapa dan memberi senyum ke pelanggan. “Kami tidak mengizinkan panggilan cici atau koko kepada pelanggan. Semua tamu dipanggil dengan sebutan Bapak atau Ibu. Jadi, satu tim, bahasannya sama,” ucapnya. Liana melanjutkan, tolak ukur customer satisfaction bagi Sushi Tei tidak ditentukan dari seberapa sering frekuensi kedatangan customer ke restorannya. Lebih dari itu, pihaknya percaya bahwa kepuasan pelanggan erat kaitannya dengan kepuasan emosional. Hal tersebut ditentukan oleh perceived satisfaction yang didapatkan melalui kualitas produk maupun servis secara menyeluruh.

“Terkait dengan hal ini kami mengatur beberapa parameter KPI untuk dapat mengukur customer satisfaction. Salah satu parameternya terkait dengan analisis customer comments secara rutin. Selain itu, kami juga mengadakan pengukuran melalui kuesioner yang juga kami adakan secara berkala,” terangnya.

Dengan berfokus pada pelanggan dan selalu mengidentifikasi setiap kebutuhan pelanggan, Liana bilang, slogan customer is a king masih relevan bagi Sushi Tei sampai detik ini. Terlebih, sushi sebagai makanan khas Jepang, tak bisa lepas dari kultur Negeri Sakura itu yang sangat ramah terhadap tamu. “Restoran Jepang yang otentik sangat menghargai tamu. Kultur itu yang juga kami bawa ke dalam Sushi Tei,” terang perempuan lulusan Teknik Kimia di Fachhochschule Aachen, Jerman ini.

Saat ini, PT Sushi-Tei Indonesia mengelola 16 gerai di Jabodetabek. Sedangkan untuk gerai Sushi Tei di luar area itu, perusahaan yang didirikan oleh Kusnadi Rahadja ini hanya bertindak sebagai master franchaisor. Hingga saat ini, ada 31 gerai Sushi Tei di Indonesia, termasuk di Bandung, Medan, Surabaya, Bali, Makassar, Yogyakarta, Pekanbaru, dan Batam. Di Jakarta, Sushi Tei berencana membuka dua gerainya lagi hingga akhir tahun 2015.

Salah satu alamat restoran yang berada di Jakarta:

  • Nama : Restoran Sushi Tei
  • Alamat : Jl. MH. Thamrin Kav. 28-30 | Plaza Indonesia, Level 1 #102 A & C, Jakarta 10350, Indonesia
  • No.Hp : +62 21 39835108
  • Open Now : 10:30 AM – 9:45 PM

Tips
1. Selalu dengarkan customer hingga tuntas. Jangan sampai customer menjelaskan hingga kedua kalinya.
2. Berikan kejutan kepada customer di hari spesialnya. Kejutan kecil memberikan makna yang berarti bagi customer.

Related posts